Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Dari Sampah Jadi Rupiah, SAR Natuna Ajak Warga Sulap Kapar Menjadi Karya Bernilai


NATUNA – Di pesisir Natuna, potongan-potongan kayu yang terdampar akibat ombak dan arus laut selama ini lebih sering dianggap sampah. Kusam, lapuk, dan tak bernilai. Dalam bahasa setempat, kayu apung itu dikenal dengan sebutan kapar.


Namun pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Sabtu (6/6/2026), kapar mendapat makna baru. Bukan lagi limbah yang harus dibuang, melainkan bahan baku yang dapat diolah menjadi karya seni sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir.


Bertempat di kawasan Kota Tua Penagi dan Ranai Darat, kegiatan yang melibatkan berbagai instansi ini berlangsung berbeda dari aksi bersih pantai pada umumnya. Selain memungut sampah, masyarakat juga diajak belajar mengubah limbah alam menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.


Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Komandan Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna, Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han., yang hadir bersama unsur Forkopimda dan berbagai instansi terkait.


Dalam kesempatan itu, Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pemanfaatan kapar. Di hadapan peserta, ia mengangkat sepotong kayu apung yang telah lama terdampar di pantai.


“Ini bukan sampah. Ini bahan baku,” ujarnya sambil menunjukkan kayu tersebut kepada warga.


Menurut Abdul Rahman, banyak potensi di sekitar masyarakat pesisir yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kapar yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan seperti hiasan dinding, gantungan kunci, miniatur, hingga dekorasi rumah yang memiliki nilai jual.


Warga diajarkan mulai dari cara memilih kapar yang layak digunakan, membersihkan sisa garam laut, proses pengeringan, hingga teknik sederhana merangkai dan membentuknya menjadi produk kreatif.


“Gotong royong membersihkan pantai memang penting. Tapi kalau berhenti sampai di situ, minggu depan pantai bisa kotor lagi. Karena itu kami ingin menambahkan edukasi tentang pemanfaatan limbah agar masyarakat memiliki pengetahuan sekaligus keterampilan yang bermanfaat,” jelasnya.


Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Lanud RSA Natuna, Kantor SAR Natuna, Kejaksaan Negeri Natuna, BMKG Ranai, RRI Ranai, PIA Ardhya Garini Cabang 9/D.I, Dharma Wanita Persatuan SAR Natuna, serta masyarakat setempat.


Sinergi lintas instansi ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.


Bagi wilayah perbatasan seperti Natuna, pendekatan tersebut dinilai penting. Masyarakat tidak hanya diajak menjaga lingkungan, tetapi juga melihat peluang ekonomi dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.


Abdul Rahman menegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan semata.


“Perbatasan membutuhkan lebih dari sekadar pantai yang bersih. Kita membutuhkan masyarakat yang memahami cara menjaga lingkungan sekaligus mampu memanfaatkan sumber daya yang ada secara bijak dan berkelanjutan,” tegasnya.


Di tengah semangat gotong royong membersihkan pesisir, kapar menjadi simbol perubahan cara pandang. Dari benda yang selama ini dianggap tak berguna, lahir gagasan tentang kreativitas, kepedulian lingkungan, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.


Saat sepotong kayu apung berubah menjadi karya, terselip pesan sederhana namun kuat: menjaga lingkungan bukan hanya soal membuang sampah pada tempatnya, melainkan juga tentang kemampuan melihat nilai dan harapan dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak berarti. (Rap)

Exit mobile version