NATUNA – Pendidikan berbasis Geopark di Kabupaten Natuna tidak hanya berbicara tentang kekayaan geologi dan bentang alam.
Keanekaragaman hayati serta kebudayaan masyarakat juga menjadi bagian penting yang perlu dikenalkan kepada generasi muda sejak usia sekolah. Semangat itulah yang tergambar dalam Pawai Budaya yang digelar SD Negeri 007 Ranai Darat, Sabtu (31/10/2026).
Mengusung tema “Nusantara Beragam, Indonesia Gemilang!”, kegiatan tersebut melibatkan 320 siswa dari 15 kelas yang tampil mengenakan beragam pakaian adat, busana pengantin hingga pakaian profesi.
Sejak pagi, suasana di kawasan Ranai Darat tampak semarak. Iring-iringan peserta bergerak dari gerbang sekolah menyusuri jalan, menghadirkan beragam warna budaya Nusantara di tengah masyarakat.
Pakaian adat Jawa, Minangkabau dan sejumlah daerah lainnya menghiasi barisan peserta. Ada pula siswa yang mengenakan baju kurung, busana pengantin serta pakaian yang menggambarkan profesi aparatur sipil negara (ASN), TNI dan Polri.
Antusiasme warga terlihat di sepanjang rute pawai. Mereka berdiri di tepi jalan untuk menyaksikan penampilan para siswa. Suasana semakin meriah dengan iringan drum band MTsN 2 Natuna yang melibatkan 54 personel.
Peserta dilepas langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna, Ilham Kauli, didampingi Lurah Ranai Darat dan Kepala SDN 007 Ranai Darat.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat pesan pendidikan yang lebih luas. Pawai budaya ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran langsung bagi anak-anak untuk mengenal kekayaan budaya, memahami perbedaan serta menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna, Ilham Kauli, menjelaskan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan rencana pengembangan kurikulum muatan lokal berbasis Geopark di Kabupaten Natuna.
Kurikulum tersebut direncanakan diterapkan secara bertahap pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA/SLTA).
Menurut Ilham, pemahaman tentang Geopark tidak boleh hanya dibatasi pada aspek geologi atau bebatuan. Lebih dari itu, Geopark juga mencakup keanekaragaman hayati (biodiversity) dan kebudayaan yang tumbuh serta berkembang di tengah kehidupan masyarakat.
Karena itu, pengenalan budaya kepada anak-anak menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman mereka terhadap kekayaan daerah dan identitas bangsa.
Melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak diharapkan tidak sekadar mengetahui nama suku, bahasa dan pakaian adat, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Ilham berharap pendidikan berbasis Geopark dapat membentuk generasi yang memiliki karakter, menjunjung tinggi sopan santun, beretika serta mampu menghargai sesama, baik kepada guru, orang tua maupun lingkungan sekitarnya.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan Geopark harus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam.
Manusia, menurutnya, bukan menjadi pihak yang merusak lingkungan, melainkan harus mampu beradaptasi, menyesuaikan diri dan ikut melestarikan alam serta budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan Geopark tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga membangun sikap dan tanggung jawab generasi muda terhadap warisan alam dan budaya daerah.
Pawai Budaya SDN 007 Ranai Darat sendiri menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebagai bagian dari kegiatan literasi budaya yang diselenggarakan pihak sekolah.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengenalan kekayaan budaya tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Melalui pengalaman langsung, anak-anak dapat belajar berinteraksi dengan masyarakat sekaligus menyaksikan bagaimana keberagaman menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Di tengah upaya Natuna mendorong Geopark menuju pengakuan UNESCO Global Geopark, pengenalan nilai-nilai budaya dan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran sejak dini.
Sebab, menjaga warisan Geopark bukan hanya tentang melestarikan bentang alam, tetapi juga memastikan budaya, nilai-nilai luhur dan kearifan lokal tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya. (Rap)

