Potret anak jalanan di Karimun yang meminta-minta ke wisatawan, beberapa waktu lalu.
Potret anak jalanan di Karimun yang meminta-minta ke wisatawan, beberapa waktu lalu. (dok lendoot)

Pandangan mata saya tertuju pada seorang bocah berpakaian kumal sedang mendekati pengunjung sebuah kedai kopi di Karimun. Terlihat anak itu meminta-minta uang receh kepada pengunjung. Ada yang memberikan uang sekedarnya, ada juga yang menolaknya.

Pagi itu, sekitar pukul 09.15 WIB  merupakan hari sekolah. Teman-teman sebaya bocah itu sepertinya sedang belajar serius saat itu. Sementara, bocah itu harus mencari nafkah yang hasilnya tidak bisa kita ketahui rimbanya.

Di sisi lainnya terlihat anak-anak sebaya bocah itu duduk-duduk santai dan bersenda gurau dengan sesamanya. Anak-anak penerus bangsa itu kerap disebut masyarakat sebagai anak jalanan (Anjal) jumlah ada empat anak.

Selesai menghabiskan secangkir kopi, lalu saya mencoba mendekati mereka. Awalnya, beberapa anak enggan didekati hanya untuk sekedar berbincang saja. Sambil duduk bersama di pinggiran sebuah rumah toko (Ruko) itu, akhirnya beberapa anak angkat bicara.

Basa-basi mereka menanyakan tentang saya, yang saya jawab sekenanya namun dengan kehangatan, membuat mereka akhirnya merasa nyaman dan membuka diri percakapan lanjutannya.

Satu di antaranya, sebut saja namanya Mawar (anak gadis berusia sekitar 9 tahun), mulai terlihat akrab dalam percakapan. Lalu saya bertanya,”kenapa Mawar tidak sekolah?”

“Ingin sih om. Tapi orangtua kami tak mampu. Jadi saya tak bisa sekolah,” tutur Mawar dengan lugunya.

Ketika pertanyaan serupa saya utarakan ke beberapa teman Mawar lainnya. jawabannya hampir senada. Malah ada yang memberikan jawaban yang cukup mengagetkan saya. “Kami begini juga orangtua kami yang suruh, om,” tukas teman lainnya.

Perbincangan berakhir dengan berlalunya mereka meninggalkan saya sendirian.

Seorang teman yang bersama saya ikut merenungkan nasib anak-anak di daerah ini. Meski pernah beberapa  pejabat mengatakan mereka (Anjal-red) adalah pendatang, namun menurut teman saya , mereka adalah anak Indonesia juga yang perlu mendapat perlindungan dan memperoleh hak pendidikan.

Gerombolan anak-anak yang kerap disebut Anjal ini, belakangan terakhir memang tampak sudah berkurang. Hanya saja, di beberapa titik seperti di deretan rumah toko di Kolong, dan di dekat pasar lama Kolong, masih dapat dijumpai.

Tulisan ini mungkin tidak dapat mengungkap semua tabir dari keberadaan Anjal itu. Hanya saja, perhatian saya anggap penting terutama bagi mereka, pemangku kepentingan di daerah ini, yang dalam sumpah jabatannya ikut menjalankan tugas sebagai pengayom masyarakatnya.

Ada pertanyaan dari seorang teman saya tentang kondisi ini, yang katanya, harus dapat dijawab bersama.

”Mereka wajib bersekolah dan pemerintah wajib membiayainya. Sudahkah dilaksanakan amanat UUD 45 Pasal 31 itu? Jika mereka tidak sekolah, apakah tidak akan menjadi beban daerah jika kelak mereka menjadi penghuni tetap daerah ini?” katanya.

Ketika tidak bersekolah, tambahnya, bukan hanya pengangguran yang menjadi beban pemerintah ke depan, namun juga berpotensi menjadi pelaku tindak kejahatan yang korbannya bisa saja masyarakat seperti dirinya. “Lalu  sudahkan kita mengantisipasinya?” pungkasnya.  (muhamadsarih)